Langsung ke konten utama

NOKIA ASHA 305 PENYELAMAT PD YANG HAMPIR PUPUS

 

"Akar yang pahit itu terkadang berbuah manis, namun ada juga akar yang manis namun tak berbuah, jadi tidak selamanya buah yang pahit itu berakar manis" 

pokoknya begitulah...daripada kita pusing dan bingung  dengan pribahasa diatas, mari kita baca pengalaman pribadi penulis dibawah ini. okk?

Harga berapa Mas..?

satu juta tiga ratus.

Bentar ya!  saya siapkan uangnya dulu.

Setelah pembayaran selesai, tak sabar saya langsung membuka dusnya. Rasa senang dan sedikit dag-dig-dug bercampur aduk dalam pikiran saya waktu itu.

Nokia Asha 305 warna merah.

Nokia Asha 305 ini tergolong Hp cukup elit waktu itu, dilihat dari tampilannya yang full Lcd dan hanya terdapat 3 tombol, membuat hp ini terlihat elegan pada masanya, ditambah lagi dengan fitur wi-finya, uhhhh...sadis. walaupun pada Saat itu saya tidak paham manfaat atau cara penggunaan Wi-fi itu sendiri. hehehehe...........maklum, masih pemula.   

Setelah membeli hp, dompet baru, dan ikat pinggang, saya lansung balek ke Rumah keluarga di Watu Ipung.

Jalan kaki gays... dari pasar Borong sampe Rumah Keluarga..heheheheh.. ingat pesan Mama..Harus irit nak, jangan suka boros!

jadi untuk keluar uang seribu saja, harus berpikir sepuluhribu kali..heheheheh...

Dijalan, kerab kali saya mencoba untuk mengambil gambar, selain untuk mencoba kamera hp baru, enatah apa saat saya memegang hp itu, seolah-olah tingkat kepercayaan diri saya meningkat drastis, sepertinya hp ini bisa menyelamatkan kepercayaan diri saya yang hapir keos ini. Nokia dengan ciri khas bunyi “cekrek” saat mengambil gambar, membuat mata orang-orang terpanah saat kita mengambil gambar.  nokia asah bos... senggol dong!!

   

sumber : doc. Pribadi, tempat jembatan pasar Borong 18 Juni 2014

Sesampainya di rumah keluarga, saya bertemu dengan seorang remaja yang sebaya dengan saya, kami tdk saling mengenal sebelumnya, saat itu hanya mampu melempar senyum satu dengan lainya itupun ragu-ragu, enggan menyapa apalgi bertanya akan tetapi setelah saya tahu bahwa dia akan berangkat bersama saya menuju ke jawa esok harinya, saya langsung memberanikan diri untuk bertanya. Nama saya Darwin, begitu katanya. Dia orangnya pendiam dan tidak banyak tingkah, dia hanya berbicara ketika kita memberi pertanyaan saja, saya terkadang sungkan dengan beliau ini.

sumber : doc. Pribadi, foto bersama Mas Darwin di Jln. Ir. Soetami-Solo

setelah bebrapa saat kemudian kami bertukar ceritra seputar sekolah, Pengalaman dll, terasa sudah mulai akrab, walau terkadang Saya yg lebih dominan bertanya, karena saya orangnya suka penasaran dengan hal baru apalagi Teman baru.

Keesokan sorenya kami berangkat dari borong menuju labuan bajo, rasa senang, takut, ragu dan penuh kebimbangan campur aduk dalam pikiran saya, suasana yang baru, orang baru membuat saya menjadi sedikit minder untuk beradaptasi dengan orang-orang dan lingkungan. waktu itu kami menginap satu malam di labuan bajo tepatnya di hotel Pelangi, perjalanan menuju ke surabaya waktu itu belum seperti sekarang ini, belum ada “tol laut” , jadi kalau hendak ke pulau jawa harus singgah di Lombak dan Bali dahulu, kapal yang kami tumpangi adalah kapal Tilongkabila. Kapal ini cukup berat muatanya karena harus membawa kenangan dari setiap penumpangnya hehehe...

sumber : doc. Pribadi, foto saat berada di kapal Tilongkabila Juni 2014

 

Dari satu sudut hingga kesudut lainya dalam kapal kami pergi hanya untuk melihat dan menjawab pertanyaan dalam hati, oh... ternyata begitu, oh... ternyata begini. Maklum saja dalam sejarah hidup saya, saat itu saya pertama kali menumpang kapal, walaupun saat SMA dulu saya pernah mengacungkan tangan ketika Guru Fisika bertanya, siapa yang pernah menumpang kapal? Anggap saja saat SMA itu kapal dalam imajinasi, kalau yang ke jawa itu kapal benaran, heheheh....

Dalam perjalanan, kami banyak bertukar ceritra, entah itu pengalaman, rencana masa depan dll.

Sesampainya di Bali, kami turun dari kapal, dijemput oleh saudara yang bekerja di sana. Kini rasa percaya percaya diri saya lagi-lagi dihajar bahkan  hampir keos benaran, saya melihat bule berseliweran sana-sini, patung besar ada dimana-mana bahkan kaki saya nyaris tersangut benang layang-layang untung masih konsen sedikit. Di tempat parkir kendaraan saya dan saudara yang menjemput tiba-tiba terpisah, saya tidak mengetahui entah kemana dia pergi. Saya masih ingat tulisan di bajunya “ I LOVE BALI”. Mungkin 20 menit lamanya saya menunggu, namun saya tak kunjung melihat batang hidungnya, dengan penuh rasa takut saya mencoba bertanya kepada Bapak- Bapak yang duduk di dekat pintu keluar :

·       Pak, saya mau cari kakak saya, tadinya kami jalan sama- sama dari kapal, sampai sini  dia tiba-tiba menghilang entah kemana.

·       Ciri-cirinya gimana Bli?

·       Badan agak kurus, rambut ombak, hidung mancung tinggi pas-pas.

·       Tinggi pas-pas berapa Bli? Yang tinggi pas- pas banyak Bli, pas masuk tentara, pas masuk polisi pas juga jadi badut. Jadi yg pas itu ikut siapa?

Saya menjadi pusing bukan cuman tujuh keliling sama bapak ini, di manggarai atau flores pada umunya, ketika orang berbicara tinggi pas-pas, si lawan bicara sudah dapat memperkirakan yaitu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.

Kali ini dia yang balik bertanya:

·       pakai baju warna apa bli?

Saya menjawab

·       pakai baju warnah putih pak.

·       Yang pakai baju warna putih banyak bli. Tu liat, banyak kan?

Ingat tulisan dibajunya atau tidak?

·       Saya menjawab, ya ada tulisan “I LOVE BALI”

·       Aduhhhhh... yang tulisan I LOVE BALI itu banyak, Tu....lihat ! satu toko bajunya tulisan I LOVE BALI semua, semua petugas parkir sampai pegawai kantornya disini punya tulisan I LOVE BALI.

RIP Percaya diri......

Kini rasa percaya diri saya sirnah, entah ke Hongkong, Paris, Rusia atau ke Ukraina mungkin.. bebrapa saat berselang kembali saya mengeluarkan si Nokia Asha 305 dari sarangnya dan mencoba untuk menghubunginya, kali ini saya amnesia benaran, saya lupa kalau saya belum mencatat nomor hpnya. Terpaksa saya alihfungsikan si Nokia tadi untuk mengambil gambar disitu, setidaknya itu bisa memulihkan kepercaayaan diri saya.

Selang bebrapa saat kemudian, tiba-tiba ada yg menepuk pundak saya sambil berbicara

 aehh.. toilet antri parah e...

Ternyata si Babang jago tadi baru keluar dari Kamar kecil. Selamat..

Bebrapa waktu kemudian kami keluar dari situ, saya melihat mas Darwin tampak sangat cool, dengan baju ungu berbarit birunya, ditambah sweather warna ungu tampak sangat keren.. stay cool Man..seakan mengajak saya untuk sama-sama cool seperti dia.

Ini bali bos.. Bukan Borong..kata dia....hehehehehe senggol dong.

Selama 3 hari kami menginap di Bali, banyak sekali kenangan yang kami lewati di sana, bertemu banyak saudara yg merantau di sana, hingga bertukar ceritra mulai dari pengalam mereka hingga situasi di kampung mereka tanyakan kami kupas tuntas. Setelah 3 hari disana kami berlanjud ke surabaya, untuk bekerja disebuah perusahan. Di surabaya Saya dan Mas Darwin disuruh untuk ditempatkan di Solo-Jawa Tengah.

sumber : doc. pribadi saat berada di taman Jurug Solo-Jawa Tengah

 

Ini yang lebih asyik Gays...........Mulai dari : Jatuh Cinta Jarak Jauh (LDR) (kalau urusan ini, porsinya mas Darwin, saya tidak hehehe.. ), telfon sampai hp panas dan daun telinga merah merona bak Jamur liar, Jalan-jalan seputar kota Solo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten, Sukoharjo, pernah diajak pindah agama, hingga pada akhirnya Mas Darwin Hampir saja Mempersunting Bunga Mawar Dari Solo...., pokoknya banyak sekali pengalaman menarik, nnti saya ceritrkan di part II.

Terimakasih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Segenggam Mawar untuk Mu " Ene' Paulina"

Istirahat dalam Damai Ene' Daku, Ene Paulina   Ene Paulina.. sedikit enggan kuambil segenggam mawar untuk menabur dipusara mu, tanda ketidakmampuan saya menerima semua ini, itu semua karena saya masih sangat membutuhkan mu, namun apalah daya Kuasa Tuhan lebih sempurna diatas segalah-galahnya, Alfa omega , inilah kata-kata yg menguatkan saya. Dalam permenungan kutulis sedikit isi hati saya ini agar melempiaskan segala rindu yg tak berujung ini, meskipun air mata penuh dipipi, lewat Doa Mu, kuatkan saya... Ene' Paulina, Apa kabar mu diasana? Hingga saat ini saya masih belum terlepas dari belenggu rindu yg mengikat hati ku ini, saya belum terima bahkan tidak sanggup membayangkan kenyataan ini, Selasa 31 Mey 2022, adalah sejarah yg sangat menyayat hati saya, tidak ada tanda atau apapun sebelumnya, pagi itu saya bersiap- siap untuk berangkat kerja, melihat cucu mu Jiovanni yg makin hari makin bertumbuh dan berkembang membuat semangat saya untuk bekerja semakin menggebu.  Jam 7:39...

MAWAR TEPI JURANG

Untuk mu mawar di tepi jurang, engkau yg mekar dalam diam, sunyi sepinya rimba perlahan engkau tebar aroma, senyapnya malam ditemani rembulan adalah saksi setia setiap ujung kuncup yg kau buka.. Aku terkagum dengan mu, hati ku terbuai melihat indahnya warna mu, warna yg cerah indah tanpa polesan, pernah sekali kutampar pipi ku saat pertma menemukan mu, bertanya dalam diri apakah aku sedang bermimpi? Engkau sunggu mekar diujung jurang dan rimba yg hanya menjadi penikmat sepasang mata yg lewat. Ruas-ruas halus setiap ujung kuncup mu adalah tanda ketulusan dan betapa berharganya kehidupan bagi mu. Gelora jiwa yg kian membara memaksa kaki untuk melangkah Apalah daya.. Mudah dilihat tapi sulit disunting, itulah Isyarat kata tenang  mu, andai kutahu sejak itu, akan kugapai seutas tali untuk memindahkan mu ke pot teras rumahku, itulah pikiran ku, entah mengapa engkau kini sudah mekar.. mekar memang memanjakan mata tetapi menghancurkan niat dan harapan. Sebagai sesama ciptaan nya, aku hany...

Romansa diujung senja

  Kututup sejenak kedua mata Berusaha membuka kenangan Waktu itu diujung senja Ku pegang jemari tangan mu untuk yg pertama kali Senyum tipis dibibir merona Engkau sedikit malu-malu untuk menolak Namun cahaya mata mu tak dapat terhelak Kutahu engkau sedang jatuh cinta Akupun tak kalah, jantung berdebar tak tentu arah Untuk pertama kali aku parah termabuk asmara Langit merona nan awan putih berarak dilangit menjadi saksi perjumpaan itu Burung-burung menari dilangit senja Seakan bersukaria melihat kita berdua Raja siang tak mau kalah  walau perlahan kembali ke sarang Ia tetap setia memancarkan cahaya Diufuk barat cahaya merah merona, menambah hangatnya suasana Hangat bagaikan asmara yg membuat kita mabuk bersama Diujung senja kita mengikat janji, untuk hidup bersama hingga nanti Aku sungguh ingin bersama mu, nona manis yg telah lama hadir dalam mimpi Trimakasih untuk waktu yg singkat ini. #just in illution Kristo sapang