Langsung ke konten utama

CERITRA RAKYAT MANUS "WADA' MATA LE NGIS DE WAZA"


    Wada’ dalam bahasa lokal masyarakat Manus adalah ketentuan suatu pristiwa yang benar-benar terjadi baik suka atau tidak suka, terima atau tidak terima  berdasarkan ketentuan sang Empunya kehidupan, Pada kepercayaan masyarakat lokal, Wada’ ini biasanya berkaitan dengan kematian, tanpa melihat sebab dari sebuah kematian, kalau sudah sebut Wada’ , masyarakat lokal percaya bahwa kematian itu sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, dalam kosa kata Bahasa Indonesia, ada beberapa definisi kata yang mirip kata Wada’ namun masih bersifat kompleks seperti kata Takdir, garistangan, suratantangan dll.

    Berikut ceritra rakyat temurun tentang wada' dari seorang anak, ceritra ini bersifat fiktif dan tidak untuk diperdebatkan, mari ambil hikmanya saja!

  WADA' MATA LE NGIS DE WAZA


Alkisah pada suatu ketika di sebuah kampung, hiduplah sepasi suami istri yang baru saja 10 bulan menikah.

Keduanya penuh Sukacita serta kebahagiaan karena sebentar lagi mereka akan diberikan karunia anak pertama mereka.

    Hari demi hari mereka lalui dengan penuh kasih sayang antara satu dengan yg lain, si suami sangat mencintai istrinya begitu pula dengan istrinya sangat mencintai dan menyayangi suaminya mereka saling mengasihi satu sama lain, apapun yang diinginkan istrinya suami akan berusaha untuk mendapatkanya, begitu pula sebaliknya.

    Pada suatu ketika si istri tiba-tiba memgidam dan ingin memasak dan makan ikan air tawar, Karena rasa cinta dan kasih sayang terhadap istrinya yang sedang sedang hamil anaknya, si suami pun mengiayakan permintaan isterinya itu.

    Hari mulai  gelap si suami bergegas menuju ke sungai besar yang berada di dekat kampung itu. Pada waktu itu belum ada senter atau lampu penerangan yang bersumber dari listrik, si suami menggunakan obor yang terbuat dari kapas yg dibaluri tumbukan buah kemiri.

    Mulai dari batu yg ukuran kecil sampai yg besar ditengoknya satu per satu, namun sayang sekali sejauh perjalanannya Dia tidak mendapatkan apa-apa. Dia pun merasa kesal dan lelah lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah batu besar yang berada di tengah sungai itu, diatas batu itu ada rimbunan daun pohon beringin besar. Angin sepoi meniup membawa uap air dingin seakan menambah cekamnya udara  malam hingga  menusuk kedalam sum-sum tulangnya, dia mengambil kayu-kayu kering disekitar dan menyalakan api, senyap, sunyi, sepi, dan hanya terdengar samar bebrapa suara burung malam di telinganya, serasa tempat itu sangat nyaman untuknya. sambil bersandar di Batu diapun mencoba untuk memejamkan matanya sejenak, tak sengaja Dia tertidur, pada tidur singkatnya itu dia bermimpi dalam Mimipinya, Pepohonan dan Batu- batu disekelilingnya saling Berbicara Satu sama Lainnya, dia hanya mengonggak-anggukan kepalanya, merasa sangat asing dan ketakutan dengan situasi itu, mimpi seolah-olah seperti kenyataan. Sangat terdengar jelas dalam telingannya topik pembicaraan mereka

 

 

Purus, soo tara toe too Ghau? Tana le ghazu Rebak

 Wale le purus :

Aku manga meka, too kout meu!

 

Pohon beringin, kenapa engkau Tidak Berangkat? Tanya kayu Rebak

Pohon Beringin Menjawab:

Saya Sedang Ada Tamu. Tidak apa-apa  Kalian saja yang pergi.

 

Setelah Selang Beberapa saat kemudian, kayu Rebak kembali dan Memanggil pohon beringin lagi.

 

Purus... purus..purus e...

Ata rona, landi mata le Ngis de waza ko..

Itu,i wadan ko

 

Beringin..  Bringin..Bringinn..

laki-laki, hanya saja Dia akan mati karena gigi Buaya..

Itulah Wada'

 

    Si Bapak tadi terbangun dan situasi berubah seakan semunya terbawah angin, perasaanya berubah menjadi takut dan getaran,  dia menatap sekelilingnya dan kebingungan karena semuanya biasa-biasa saja sudah tidak seperti dimimpinya lagi, mengingat hal itu dalam mimpinya, cepat-cepat bergegas pulang ingin menceritrakan hal itu kepada Isterinya,

Benar saja, Sesampainya Dirumah....

 

Lanjud Part 2.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Segenggam Mawar untuk Mu " Ene' Paulina"

Istirahat dalam Damai Ene' Daku, Ene Paulina   Ene Paulina.. sedikit enggan kuambil segenggam mawar untuk menabur dipusara mu, tanda ketidakmampuan saya menerima semua ini, itu semua karena saya masih sangat membutuhkan mu, namun apalah daya Kuasa Tuhan lebih sempurna diatas segalah-galahnya, Alfa omega , inilah kata-kata yg menguatkan saya. Dalam permenungan kutulis sedikit isi hati saya ini agar melempiaskan segala rindu yg tak berujung ini, meskipun air mata penuh dipipi, lewat Doa Mu, kuatkan saya... Ene' Paulina, Apa kabar mu diasana? Hingga saat ini saya masih belum terlepas dari belenggu rindu yg mengikat hati ku ini, saya belum terima bahkan tidak sanggup membayangkan kenyataan ini, Selasa 31 Mey 2022, adalah sejarah yg sangat menyayat hati saya, tidak ada tanda atau apapun sebelumnya, pagi itu saya bersiap- siap untuk berangkat kerja, melihat cucu mu Jiovanni yg makin hari makin bertumbuh dan berkembang membuat semangat saya untuk bekerja semakin menggebu.  Jam 7:39...

" MAP MERAH" SIMFONI KASIH SAYANG YANG TAK PERNAH KUSAM

  FOTO: Mama Paulina Cinta Tanpa Syarat. Alkisah Pada Sautu   pagi, Di Sebuah Rumah terlihat sedang Hiruk pikuk menyelsaikan Tugasnya Masing-masing. Sang ayah Mengutak atik Volume dan tunning Radio, sedangkan si Kakak Sibuk menyelsaikan Novel karya Chairil Anwar. Dia Penasaran Dengan Endingnya.      Sang Adikpun tidak mau Kalah dgn Tugas Onlinenya, Dia Merengek Kesana Kemari, tak Ada Satupun menggubrisnya. Sang Ibu sibuk menyajikan sarapan Pagi untuk Anggota keluarganya. Semua penuh kesibukan Masing-masing.        Beberapa saat kemudian, Semua kesibukan Itu Berakhir sejenak, lantas Sang ibu sudah menyajikan semua Makanan diatas meja makan. Semua anggota Keluargapun berkumpul, Berdoa lalu Sarapan pagi. Lekas Sarapan, sang Ayah perlahan menanyakan   kepada Si Adik. Dik apa Tugas Sekolah Mu? Sang adikpun menjawab, “Tugas Sekolah ku yaitu membuat Prakarya, yaitu Menempel Semua Hasil prestasi anggota kluarga kita Di ruangan Tamu, nant...

KAU INI BAGAIMANA?

Penulis : Kristo Sapang    Kau ini bagaimana..?   Aku diam saja engkau berteriak  “ Hey..... jangan diam saja, mari bergerak!”  Aku bergerak, Kau bilang  “ Ah kamu.., lamban sekali pergerakan mu”  Kau ini bagaimana...?  Saya bungkam, engkau mengejek  “ hey..... jangan bungkam saja, Engkau nanti ditindas, bersuaralah!”  Saya bersuara, Engkau Tegas  “jangan Asal omong saja, mari berpikir kritis!”   Kau ini bagaimana...?   Saya berpikir kritis dengan lantang engkau berkata  “jangan cuman berpikir kritis saja, mari bekerja!”  Saya bekerja, engkau melebarkan bibir dan berkata  “jangan terlalu fokus bekerja, Mari kita Pesta dan Mabuk rame-rame.... Santaikan?   Kau Ini Bagaimana......?  Kau Yang mengajak ku Mabuk. Saya mabuk, kau Buang dan Campakan Aku  “ Dasar Tidak Tau Diri” Itu Kata-Kata mu.  Kau ini bagaimana...?  Saya santai, dengan pandai engkau bercerama  “ j...